Cari cara mengatasi bibir kering?
Home » » Cari cara mengatasi bibir kering? Pakai pelembab bibir dari bahan alami ini, yuk
pengalaman Memutihkan Ketiak Dengan jeruk nipis
Tips 3 Menit Putihkan Ketiak dan Selangkangan
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Thursday, January 21, 2021
Letnan Jenderal Siswondo Parman: Perwira Intelijen yang gugur di Lubang Buaya
Ia seorang tentara intelijen yg mumpuni. Ia juga seseorang pemikir dan penyusun organisasi militer yg handal. Ia pernah dijuluki ?Penasihat Agung?. Kemampuan pada intelijen membuatnya mampu membongkar misteri gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) Westerling yg akan membunuhi tokohtokoh militer Indonesia dalam 1950. Ia segera memimpin pasukan menuju hotel des Indes dan menangkap tokoh-tokoh gerakan, meski westerling melarikan diri. Sebagai perwira AD, beliau menentang keras pembentukan angkatan kelima dalam 1965, lalu masuk daftar hitam persekutuan G 30 S karena tuduhan dewan Jenderal. Akibatnya dia disingkirkan dalam gerakan brutal di lubang buaya.

Siswondo Parman menghabiskan masa kecilnya di Wonosobo. Awalnya selepas dewasa, ia masuk sekolah kedokteran di GHS [Geneeskundige Hogesschool] Batavia. Akan tetapi, sekolah kedokterannya wajib terhenti waktu Jepang masuk dalam 1942. Sebagai pemuda, dia lalu tertarik menggunakan dunia militer dan akhirnya terpilih mengikuti pendidikan Kenpei Kasya Butai pada negeri Jepang, sebuah pendidikan khusus intelijen.
Selepas balik ke tanah air, ia segera bekerja di jawatan Kenpetai. Setelah Proklamasi Indonesia, beliau masuk ke Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Awal kariernya di militer dimulai menggunakan mengikuti Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yaitu Tentara RI yg dibentuk sesudah proklamasi kemerdekaan. Pada akhir bulan Desember 1945, beliau diangkat sebagai Kepala Staf Markas Besar Polisi Tentara (PT) di Yogyakarta.
Sepanjang Agresi Militer II Belanda, ia turut berjuang menggunakan melakukan perang gerilya. Pada Desember 1949, ia ditugaskan menjadi Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya. Salah satu keberhasilannya ketika itu adalah membongkar misteri gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yg akan melakukan operasinya di Jakarta pada bawah pimpinan Westerling dalam 1950, gerakan ini akan membunuh menteri pertahanan HB IX, ketua Staff TB Simatupang, & Ali Budiardjo. Parman menggagalkan aksi ini dan menangkap pelakunya. Setahun berikutnya, dia dikirim ke Amerika Serikat buat mengikuti pendidikan pada Association Military Company Officer.
Setelah kembali menurut Amerika Serikat, ia sebagai Kepala Staff Umum AD. Lalu menjadi tenaga guru di sentra pendidikan AD. Ia kemudian ditugaskan pada Kementerian Pertahanan. Pada September 1956, dia diangkat sebagai Kepala Bagian Material Kementerian Pertahanan. Tugasnya dianggap indah & ia berpangkat colonel saat itu. Berikutnya ia diangkat sebagai Atase Militer RI di London, Inggris dalam 1959. Tiga tahun berikutnya, dia diserahi tugas sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) hingga pangkatnya naik sebagai Mayor Jenderal pada Agustus 1964.
Ketika menjabat Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) inilah ia datang-tiba diklaim-sebut sebagai bagian dari Dewan Jenderal yang dituduh akan melakukan pengambilan kekuasaan. Tuduhan ini nir pernah terbukti lantaran lalu komplotan G30S merogoh tindakan semena-mena terhadap Jenderal Parman. Ia diculik dari rumahnya dan dibawa ke lubang buaya pada dini hari 1 Oktober 1965. Ia kemudian ditembak meninggal oleh kaum penculik dan jenazahnya dibuang dalam sebuah sumur. Jenazahnya segera dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta & pemerintah menaikkan pangkatnya sebagai Letnan Jenderal anumerta. Pada hari peringatan angkatan bersenjata tahun 1965, Parman segera diangkat sebagai pahlawan revolusi.
Sederet manfaat buah salak untuk kesehatan bila dikonsumsi secara rutin
Sempat trending di Twitter, apa itu Xenophobia?
http://kesehatan.kontan.co.id/news/sempat-trending-di-twitter-apa-itu-xenophobia
5 Manfaat temu ireng sebagai obat herbal untuk rematik sampai ambeien
Ini jus buah yang efektif mengobati diabetes melitus dan darah tinggi
Wednesday, January 20, 2021
Mayor Jenderal Panjaitan: Mayon Jendral Korban G30S
?Malam 30 September 1965, subuh 1 Oktober kami mendengar bunyi truk-truk berhenti dan orang-orang mengepung rumah kami. Tanpa ada peringatan, mereka menembak menurut segala penjuru, misalnya hujan peluru.? Catherine Panjaitan - anak Mayor Jenderal D.I. Panjaitan.

Mayor Donald Izacus Jenderal Panjaitan lahir di Sitorang, Balige, Tapanuli dalam 10 Juni 1925. Ia mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA sezamannya. Pada ketika pendudukan Jepang di Indonesia, beliau memasuki pendidikan militer atau Gyugun dengan pangkat shoi (Letnan Dua) & ditempatkan pada Pekanbaru, Riau. Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Pandjaitan bergabung menggunakan Pemuda Republik Indonesia.
Paska proklamasi kemerdekaan, Panjaitan beserta para pemuda lainnya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dalam pasukan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) tersebut, pertama kali dia ditugaskan sebagai komandan batalyon, kemudian sebagai Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi tahun 1948. Karier militernya terus meningkat menggunakan pengangkatannya sebagai Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatra. Ketika Pasukan Belanda melakukan Agresi Militer II, ia diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Setelah kedaulatan Indonesia diakui Pemerintah Belanda, Panjaitan kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Selanjutnya dipindah tugas ke Palembang menjadi Kepala Staf T & T II/Sriwijaya. Dalam karier militernya tercatat dua kali Panjaitan mendapat pelatihan ke luar negeri. Pertama pada 1956, mengikuti kursus Militer Atase (Milat) di Jerman. Kedua, tahun 1962, ia menimba ilmu di Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat. Sepulangnya ke tanah air, Panjaitan mendapat jabatan baru menjadi Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad).
Pada tahun 1965 terjadi perpecahan dalam tubuh Angkatan Darat (AD) hingga puncaknya terjadi penculikan terhadap petinggi AD. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan G 30 S. Pada tanggal 1 Oktober dini hari, truk militer mengangkut sepasukan Cakrabirawa berhenti di depan rumah Panjaitan. Setelah menembaki, pasukan tersebut memasuki rumah dan meminta Panjaitan turun, saat itu ia dan keluarganya berkumpul di lantai atas. Menurut keterangan Riri Panjaitan (salah satu anak Mayor Jenderal D.I. Panjaitan – saat peristiwa G 30 S baru berusia 8 tahun), yang menjadi saksi dalam
peristiwa tersebut, Mayjen Panjaitan turun dengan pakaian lengkap uniformnya sebagai angkatan darat. Beberapa menit setelah Panjaitan turun, ia ditembak di teras lalu dibawa pergi. Beberapa hari kemudian mayatnya ditemukan di Lubang Buaya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1965. Karena pengabdiannya ia mendapat gelar pahlawan Revolusi.










