Cari cara mengatasi bibir kering?
Home » » Cari cara mengatasi bibir kering? Pakai pelembab bibir dari bahan alami ini, yuk
pengalaman Memutihkan Ketiak Dengan jeruk nipis
Tips 3 Menit Putihkan Ketiak dan Selangkangan
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Thursday, April 8, 2021
Temuan Uni Eropa: Kemungkinan ada hubungan vaksin AstraZeneca dan pembekuan darah
Pedagang Asongan Masa Kolonial Belanda

Pelarangan, penggusuran bahkan pengusiran para pedagang asongan pada beberapa stasiun kereta api sebagai topik berita beberapa saat yang kemudian. Ketika stasiun kereta barah mulai menampilkan paras modernitasnya dengan menjaga ketertiban & keteraturannya maka sesuatu yg dipercaya mengganggu harus disingkirkan. Pedagang asongan mungkin sesuatu yang dipercaya mengganggu dan harus diusir, tidak boleh buat berjualan di stasiun kereta api.
Dan digantikan dengan “franchise-franchise” modern yang lebih teratur dan tentunya memiliki pemasukan-pemasukan bagi stasiun yang menguntungkan. Bahkan diberlakukan juga bagi stasiun-stasiun yang memberangkatkan kereta kelas Ekonomi. Atau bisa juga dalam bisnis hal ini untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat pengguna jasa kereta api terhadap gangguan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh para pedagang, pengamen, dan para pengais rejeki lainnya di stasiun maupun di dalam kereta api. Tentunya hal ini menjadi pro dan kontra dalam masyarakat.
Selengkapnya...
Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Awal Permulaan
![]() |
| Berdasarkan catatan I Tsing, Sriwijaya sudah ada semenjak 671 M (saat beliau pertama kali pada Sriwijaya). Tidak dijelaskan secara gamblang mengenai Sriwijaya. |
Tak sedikit yg mengungkapkan bahwa mengusut sejarah kerajaan-kerjaan pada Nusantara merupakan sesuatu hal yang sulit. Terutama bila kita mengusut kerajaan-kerjaan yg pernah ada dalam abad ke-1 sampai ke-15. Saya rasa kesulitan tadi poly disebabkan lantaran bukti utama yang kurang tersedia, sehingga pantaslah para sejarawan mengaku cukup sulit untuk merekonstruksi sejarah kerajaan pada Nusantara. Kerajaan yg sudah runtuk ratusan bahkan ribuan tahun. Salah satu hal yg bisa diselidiki mengenai kerajaan-kerjaan tadi merupakan melalui prasasti-prasasti yang ditemukan.
Sriwijaya berasal dari Bahasa Sansekerta. Sri artinya gemilang atau bercahaya, dan Wijaya artinya kejayaan atau kemenangan. Maka secara bahasa, Sriwijaya adalah Kemenangan yang gemilang. Dan sepertinya, arti dari kata Sriwijaya benar-benar terjadi, terbukti Kerajaan Sriwijaya mampu berdiri kokoh selama kurang lebih 5 abad. Mungkin ini yang disebut kemengangan yang gemilang.
Berbicara tentang kerajaan maritim dunia, mungkin Sriwijaya merupakan keliru satu kerajaan maritim terbesar pada dunia. Luasnya kerajaan Sriwijaya membentang menurut Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa Barat, dan kemungkinan Jawa Tengah.
Sejarah Awal
| Perkiraan Wajah I Tsing.Wikipedia |
Ada 2 bukti fisik yg berkaitan dengan awal mula Sriwijaya, pertama Catatan Perjalanan I Tsing (seseorang biksu budha menurut China), & yang kedua adalah prasasti Kedukan Bukit.
Kita mulai berdasarkan I Tsing terlebih dahulu. I Tsing merupakan Biksu Budha menurut China, tepatnya Guangzhou. Awal mulanya, I Tsing berniat pergi ke India buat menyelidiki kepercayaan Budha. Namun, ia nir sanggup bahasa Sanskerta (bahasa yg dipakai di India dalam saat itu). Akhirnya, ia tetapkan buat singgah dulu di Fo-shih (Sriwijaya) buat menilik segala tentang Bahasa Sanskerta. Biksu Budha ini singgah kurang lebih 6 bulan, pada rentang waktu 671-672 M.
Dalam buku catatannya, I Tsing menulis
"apabila agamawan China hendak pulang ke Barat buat mendengar dan membaca (teks-teks Budhis yg asli), sebaiknya dia tinggal di Fo-shih selama satu tahun atau 2 tahun dan di Fo-shih menerapkan aturan yang sesuai seperti Barat. Kemudian dia bisa pergi ke India Tengah."
Setelah belajar Bahasa Sanskerta, I Tsing berlayar menuju India. Keinginannya buat memperdalam ajaran Budha akhir terlaksana. Di India, I Tsing menetap selama kurang lebih sepuluh tahun. Setelah dikiranya cukup, I Tsing tetapkan untuk pulang menurut India. Bukan China tujuannya, tetapi Sriwijaya. Lagi-lagi dia tetapkan untuk tinggal di Sriwijaya. Pada tahun 685 M beliau tiba pada Sriwijaya. Selama masa-masanya di sana, I Tsing banyak menghabiskan ketika buat menerjemahkan teks Budha yg dia dapatkan di India.
Ketika tahun 689 M, beliau memutuskan buat mudik ke Guangzhou. Kunjungan kali ini ia pakai untuk mencari 4 asisten buat membantunya di Sriwijaya - Alhamdulillah dapat. Pada tahun yang sama, I Tsing eksklusif pulang ke Sriwijaya, nampaknya pulang kampung kali ia lewatkan dengan cepat. Hal ini disebabkan oleh syarat angin yang sedang baik.
Bersama asistennya, I Tsing memulai tugasnya seperti biasa. Pada tahun 695, dia tetapkan buat pulang kampung ke Guangzhou. Setelah itu dia tidak kembali lagi ke Sriwijaya
Berdasarkan catatan I Tsing, Sriwijaya sudah ada semenjak 671 M (saat beliau pertama kali pada Sriwijaya). Tidak dijelaskan secara gamblang mengenai Sriwijaya. Tidak menjelaskan letak tepatnya, tidak menjelaskan siapa rajanya, berapa luas kerajaannya, bahkan I Tsing sama sekali tidak menyebut kata Sriwijaya (ia menyebutnya dengan Shih-li-fo-shih). Namun, berdasarkan catatan I Tsing, kita tahu bahwa Sriwijaya merupakan kerajaan Budha yang termahsyur dengan ratusan biksu, selain itu rajanya baik kepadanya.
Kedukan Bukit : Ekspedisi Sriwajaya
![]() |
| Prasasti Kedukan Bukit.Wikipedia |
Antara catatan I Tsing dengan prasasti Kedukan Bukit punya fungsi yang erat. Pada dasarnya Prasasti Kedukan Bukit menguatkan bukti bahwa Sriwijaya benar-benar ada.
Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada kampung Kedukan Bukit, Palembang. Prasasti ini berbentuk batu berukuran 45 x 80 cm, ditulis pada aksara Pallawa. Menggunakan bahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna ini jarang digunakan pada menulis prasasti, kebanyak prasasti pada Nusantara ditulis dengan bahasa Sanskerta.
Isinya menjadi berikut. Pada 6Dapunta Hyang (gelar raja Sriwijaya) melakukan ekspansi dari Minanga ke daerah Palembang (tempat ditemukannya prasasti). Adapun jumlah tentara yang ia bawa sejumlah 20 ribu. Ekspansi ini berhasil menaklukan beberapa wilayah. Untuk letak Minanga, sampai kini masih sebagai perdebatan.
Apabila kita hubungkan dengan catatan I Tsing, ia datang pada tahun 671 M, ini adalah Sriwijaya telah ada dalam ketika itu, tetapi I Tsing tidak menjelaskan menggunakan niscaya siapa Rajanya. Menurut Prasasti KB, dalam tahun 682 M, seorang raja bergelar Dapunta Hyang melakukan perluasan besar -besaran ke wilayah lain. Dengan begitu, pada saat I Tsing datang, Sriwijaya dipimpin oleh Dapunta Hyang, yang bernama Jayanasa (nanti akan dijelaskan mengenai Jayanasa pada prasasti Kebun Kopi).
Talang Tuwo
![]() |
| Prasasti Talang Tuwo.Wikipedia |
Dua tahun selesainya Prasasti KB, tepatnya 684 M. Muncul sebuah prasasti baru. Yang pada dasarnya membicarakan kebaikan hati oleh Raja. Di ceritakan bahwa oleh raja menciptakan sebuah kebun buah-buahan buat umum pada Talang Tuwo, sebelah barat Palembang. Pada pembangunan kebun ini, oleh raja meminta diukirkan sebuah teks, yg menyampaikan asa semoga manfaat pembuatan kebun ini dapat dirasakan sang semua makhluk.
Raja yang baik hati itu namanya merupakan Jayanasasa. Dan kemungkinan akbar, Dapunta Hyang yang tertulis pada Prasasti Kedukan Bukit merupakan Jayanasa.
First Published by Gu-buk.Net
Wednesday, April 7, 2021
Resolusi PBB terhadap Perang Korea

Pada tahun 1951, Majelis Umum PBB lewat sebuah resolusinya mengutuk pemerintahan Komunis Republik Rakyat Cina (RRC) yang melakukan agresi di Semenanjung Korea. Resolusi ini adalah pertama kali sejak PBB dibentuk pada tahun 1945 dalam mengutuk sebuah negara sebagai Agresor.
Pada bulan Juni 1950, pasukan komunis dari Korea Utara melakukan penyerbuan ke Korea Selatan dalam upaya menyatukan seluruh Semenanjung Korea dibawah kekuasaan Komunis Korea Utara yang sebelumnya dibagi pada tahun 1945. Pembagian itu didasari oleh pendudukan yang dilakukan oleh tentara Uni Soviet di Utara dan tentara AS di bagian selatan saat menerima penyerahan Korea dari Jepang yang mengalami kekalahan perang.
Pada akhir tahun 1950, RRC mengerahkan ratusan ribu pasukan menyebrang ke Korea Utara dalam rangka membantuk Korea Utara menghadapi pasukan AS di Selatan. Hal ini didasari oleh tindakan awal AS yang mendorong Korea Selatan melakukan penyerangan ke Korea Utara. Sampai tahun 1951, AS memiliki keterlibatan yang kental dalam peperangan di Korea. AS mengirimkan ribuan pasukan dan bantun dana, serta senjata senilai jutaan dolar ke Korea Selatan.
![]() |
| Penguasaan Semenanjung Korea oleh Korea Utara dan Selatan selama Perang Korea (Foto: pacifism21.org) |
Suara dari Majelis Umum PBB kandas, diikuti oleh usaha yang gagal oleh delegasi AS untuk PBB agar Dewan Keamanan PBB mengambil kebijakan dan mengintervensi Cina. Perwakilan AS di Dewan Keamanan PBB tidak dapat berkutik menghadapi Veto yang dilakukan oleh Uni Soviet. Perlu diketahui bahwa negara yang memiliki hak veto adalah Uni Soviet, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Republik Cina (Taiwan), sekarang posisi pemegang hak veto Republik Cina jatuh kepada Republik Rakyat Cina (RRC).

Kegagalan AS dalam Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB , mengalihkan tuntutan yang dilakukan delegasi AS agar PBB menyerukan pengutukan terhadap RRC sebagai aggressor di Korea. Dalam sepanjang pengambilan keputusan tersebut, negara-negara blok komunis seperti Uni Soviet, Belarus, Ukraina, Polandia, dan Cekoslowakia, dan negara-negara non blok seperti Burma dan India menentang dikeluarkannya resolusi tersebut.
Meskipun mendapatkan penolakan, resolusi tersebut tetap disahkan, dan menyatakan bahwa RRC memiliki tanggung jawab sebagai agresor di Korea. Dan meminta Cina menarik pasukannya dari Korea dan berhenti melakukan permusuhan terhadap pasukan keamanan PBB di Korea.
Resolusi itu dinilai hanya sebagai simbolis. Hal ini karena banyak negara termasuk negara yang memberikan suara setuju segan mengambil tindakan yang lebih jauh kepada Republik Rakyat Cina karena takut bahwa konflik di Korea akan meningkat. Dan akan berdampak pada sanksi ekonomi dan politik terhadap RRC.
PBB pun memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih lanjut. Perang Korea yang berlangsung sekitar tiga tahun antara tahun 1950-1953 ini berjalan buntu dan berujung pada genjatan senjata pada tahun 1953. Perang ini menyebabkan sekitar 50.000 tentara AS tewas dalam peperangan.
Meskipun melakukan genjatan senjata, antara Korea Utara dan Selatan hingga saat ini belum menandatangani kesepakatan penghentian perang. Dan bisa saja perang ini dilanjutkan jika terjadi ketegangan politik dan militer antara kedua belah negara yang satu daratan ini














