http://kesehatan.kontan.co.id/news/catat-inilah-5-cara-meredakan-gejala-asam-urat-pada-kaki
Cari cara mengatasi bibir kering?
Home » » Cari cara mengatasi bibir kering? Pakai pelembab bibir dari bahan alami ini, yuk
pengalaman Memutihkan Ketiak Dengan jeruk nipis
Tips 3 Menit Putihkan Ketiak dan Selangkangan
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Saturday, February 13, 2021
Catat, inilah 5 cara meredakan gejala asam urat pada kaki
Mandi, Kebiasaan yang Tabu di Eropa Abad Pertengahan

Harian Sejarah - Mandi merupakan kebiasaan yang umum saat ini, bahkan sudah menjadi kewajiban bagi kita. Biasanya mandi dilakukan untuk membersihkan tubuh dari kotoran yang menempel sepanjang hari dan sebagai sarana relaksasi. Namun pada abad pertengahan, mandi merupakan hal yang tabu di Eropa. Kebiasaaan ini berlanjut sepanjang abad pertengahan dan diadopsi oleh kebanyakan masyarakat era tersebut.
Sebelum abad pertengahan, pemandian generik jamak berada di eropa & masyarakatnya biasa mandi secara teratur pada pemandian generik tersebut. Awalnya pada abad ke 4-5 masehi para rahib bahkan menyuruh warga buat mandi demi kesehatan dan kebersihan, namun melarang pemandian umum yang mencampur perempuan dan laki-laki . Karena poly penyalahgunaan pemandian generik, otoritas pendeta melarang pemandian generik pada abad pertengahan karena merasa fasilitas ini disalahgunakan menjadi sarana berhubungan intim yg menjerumuskan kepada dosa dan penyakit.
Larangan Untuk Mandi
Mandi di Abad Pertengahan. Foto: medievalists.net
Larangan gereja tadi kemudian menyebar pada kalangan masyarakat eropa. Mereka percaya bahwa air dapat membawa penyakit melalui pori-pori kulit. Menurut ilmu medis ketika itu mengungkapkan bahwa mandi bisa membawa penyakit dan mengakibatkan pori-pori kulit melebar sehingga orang lebih mudah terkena penyakit mematikan.
Masyarakat golongan bawah sangat memegang erat larangan gereja, mereka bahkan benar-benar nir membersihkan diri mereka bahkan membatasi akses buat mencuci tangan, paras & verbal. Mereka yakin bahwa menggunakan mencuci wajah akan menyebabkan penyakit pilek sampai pengurangan daya pengelihatan.
Untuk para bangsawan, mereka hanya mandi beberapa kali pada setahun. Catatan yang ditulis oleh seorang duta akbar Rusia pada Perancis bahkan mengungkapkan bahwa Kaisar Louis XIV memiliki bau misalnya hewan liar. Hal ini karena beberapa penasihat kerajaan menyarankan dia untuk nir mandi selama mungkin demi menjaga kesehatan. Catatan tadi menyatakan bahwa Louis XIV hanya mandi sebanyak dua kali sepanjang hidupnya. Ada juga catatan yg menyatakan bahwa Ratu Isabel I dari Spanyol hanya mandi sebanyak 2 kali sepanjang hidupnya.
Untuk menyiasati bau badan lantaran nir mandi, poly bangsawan ketika itu menggantikan mandi menggunakan menyeka tubuh mereka menggunakan parfum yg sangat poly. Larangan buat nir mandi tadi tetap dipatuhi hingga pertengahan abad ke 19 masehi.
Eropa Abad Pertengahan yg Kotor
Kondisi Eropa abad pertengahan jua sangat jorok, di banyak kota berserakan kotoran dan bekas air kencing pada sepanjang jalan. Jalan-jalan sebagai pembuangan limbah lantaran masyarakat yg membuang kotoran ke jalanan. Orang-orang ketika itu wajib memakai epilog wajah agar nir muntah lantaran bau yg menyengat. Kebiasaan lain yg sangat jorok adalah para tukang daging yang menyembelih hewan di jalanan & membuang sisa daging & darah ke jalanan.
Peristiwa luar biasa akibat keadaan ini adalah peristiwaThe Great Stench of 1858 di London yang akan dijelaskan secara mudah dalam video yang kami sediakan dari salah satu kanal youtube.
Demokrasi Semu Pemilu 1971
Presiden Soeharto dan Ibu Tien menuju tempat pemungutan suara pada Pemilu 1971, tanggal 5 Juli 1971. HENDRANTO/Arsip Kompas

Harian Sejarah - Empat tahun setelah resmi menggantikan Soekarno sebagai Presiden RI, Soeharto menggelar pemilu pada 5 Juli 1971. Hajatan politik nasional itu memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat provinsi dan kabupaten. Ini pemilu pertama pada masa Orde Baru.
Total ada 10 partai politik yg bertarung kali ini & hanya delapan parpol yg meraih kursi. Muncul dua partai baru, yaitu Golongan Karya (Golkar) dan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Beberapa parpol pada Pemilu 1955 tidak lagi ikut dan lantaran dibubarkan, seperti Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Sosialis Indonesia (PSI), & Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pemilu memakai sistem proporsional dengan daftar tertutup dan seluruh kursi terbagi habis di setiap wilayah pemilihan. Golkar menang dengan mengantongi 62,8 % suara (236 kursi DPR). Disusul Nahdlatul Ulama (NU) dengan 18,6 % bunyi (58 kursi), Parmusi menggunakan 5,3 persen bunyi (24 kursi), Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dengan 6,9 persen suara (20 kursi), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dengan 2,3 persen suara (10 kursi).
Menurut sejarawan Anhar Gonggong, Golkar telah diperkirakan bakal menang secara merata meski baru kali pertama ikut pemilu. Sekretariat Bersama Golkar dijadikan tunggangan politik Soeharto. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) menggunakan seluruh jaringannya, pegawai negeri sipil (PNS), Persatuan Pengajar Republik Indonesia (PGRI), dan birokrasi di semua taraf menjadi alat buat memobilisasi masyarakat dari pusat hingga ke desa-desa supaya menentukan Golkar.
Soeharto menggunakan berbagai cara, kata Anhar, berusaha melemahkan kekuatan parpol besar lain sembari membesarkan Golkar. Soal nama, contohnya, tidak dipakai istilah ?Partai?, namun ?Golongan?. Padahal, pada praktiknya, Golkar kentara-jelas partai politik. Mulai tumbuh gagasan Dwifungsi ABRI menjadi kekuatan militer sekaligus politik simpel penyokong Orde Baru.
Struktur panitia pemilu diduduki para pejabat pemerintahan, terutama menurut Departemen Dalam Negeri. Saat hari pencoblosan, tempat pemungutan suara (TPS) dijaga
ketat polisi dan tentara. Saat itulah, mulai dikenal istilah ?Seranga fajar?, yaitu pemberian uang kepada rakyat dalam pagi hari sebelum tiba ke TPS agar mencoblos partai pemerintah. Dengan seluruh manuver itu, walhasil Golkar pun menang telak.
Tujuan Pemilu 1971 sebenarnya baik, yaitu membangun kehidupan politik bangsa Indonesia yang demokratis sehabis bencana politik 30 September 1965. ?Sayangnya, pemilu direkayasa dengan cara-cara yg justru antidemokrasi. Berbagai aturan dan tata cara dimanipulasi buat memenangkan Golkar sebagai mesin politik rezim Orde Baru. Inilah pseudo democracy atau demokrasi semu yang mengelabui warga ,? Istilah Anhar, yg ketika itu menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Dalam Pemilu 1971, beberapa partai masih memperoleh bunyi cukup tidak mengecewakan karena sanggup mempertahankan pendukung tradisionalnya. NU masih punya basis kuat pada pedesaan, seperti pada Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan. Parmusi, yang seakan merupakan penjelmaan menurut politik eksponen Masyumi, masih berakar pada rakyat Islam perkotaan.
Menang pada Pemilu 1955, NI justru anjlok suaranya pada 1971. Partai ini menerima tuduhan terkait PKI?Yg dikambinghitamkan pada Peristiwa 30 September 1965. Basis pendukung nasionalisnya, terutama pada Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, & Sumatera Utara, digerogoti oleh Golkar.
Kemenangan Golkar dijadikan alat buat melegitimasi rezim Orde Baru. Manuver politik demokrasi semu ala Pemilu 1971 lantas dikembangkan sang Orde Baru buat pemilu-pemilu berikutnya, bahkan menggunakan
cara-cara lebih frontal.
?Tak ada pemilu yang benar-sahih demokratis selama Orde Baru. Semua sudah direkayasa dan tidak mencerminkan aspirasi warga yg sesungguhnya,? Istilah Anhar Gonggong.
Sumber: Kompas. 11 Januari 2014. Pemilu 1971, Demokrasi Semu
Studi: Vitamin C dan zinc tidak mengurangi gejala Covid-19
http://kesehatan.kontan.co.id/news/studi-vitamin-c-dan-zinc-tidak-mengurangi-gejala-covid-19










